Gejala Mata Kering yang Mengubah Kebiasaan Gadget Anakku

Ada satu momen yang sudah lama saya nantikan: duduk santai bersama Kinza, anak saya, tanpa drama gadget. Tapi kenyataannya, tak selalu seindah apa yang kita bayangkan.

Game Minecraft dan Emosi yang Meledak-ledak

Kinza itu pecinta game. Minecraft jadi dunianya, mabar sama teman-teman jadi rutinitasnya. Jam belajar? Jangan tanya, nyaris tak sempat. Waktu makan? Lupa. Istirahat? Terbuang.

Dan kalau saya bilang, “Sudah, cukup main hp-nya, nanti bisa sakit mata” jawabannya selalu sama.

“Nggak papa umi. Aku lagi seru ini!” Lalu disusul dengan wajah cemberut.

Saya, yang sehari-hari kerja bikin artikel blog, konten IG, dan TikTok, sebenarnya cukup menyadari bahwa keluarga kami memang akrab dengan gadget. Tapi akrab bukan berarti harus kecanduan, kan?

Momen Gejala Mata Kering yang Menjadi Titik Balik

Hari itu, hari libur. Seperti hari-hari lainnya. Kinza sibuk bermain game sejak pagi. Sarapannya sudah ada di piring, di depannya, tapi belum disentuh, padahal siang sudah menjelang.

Tiba-tiba ia mengeluh, “Ummi, mataku kok nggak enak ya. Rasanya kayak ada pasirnya. Coba liatin.” Pintanya.

Saya cek... tidak ada tanda-tanda kelilipan pasir atau apa pun. Tapi matanya merah dan tampak kering.

Saya langsung ngeh. Ini gejala mata kering. Mata SEpet, PErih, LElah. Sebuah gejala yang sering dianggap SePeLe oleh kebanyakan orang. Padahal, Mata SePeLe Jangan Disepelein karena bisa bikin tidak nyaman, mengganggu aktivitas, dan jika parah, bisa bikin masalah kesehatan mata yang berbahaya.

Bayangkan, momen mabar yang harusnya seru berubah jadi sesi mengeluh. Fokus Kinza buyar, suasana jadi tegang. Saya pun sadar, screen time berlebihan bukan cuma bikin anak gampang marah, tapi juga bisa merusak momen berharga.

Kinza Sadar Screen Time Perlu Dibatasi

“Nah kan, kejadian apa yang Ummi sering bilang, jangan kebanyakan main hp.”

“Ya tapi kan seru, Ummi. Kalau nggak main, aku ketinggalan mabar sama teman-teman.”

“Kalau matamu rusak, mau mabar pakai apa? Mata robot?”

Kinza terdiam, “Hehe… iya juga sih.” Jawabnya sambil nyengir, lalu cemberut lagi menahan perih di mata.

Mengatasi Gejala Mata Sepet dan Perih dengan Insto Dry Eyes

Saat Kinza mengeluh lagi soal matanya, saya sibuk mengingat obat tetes mata yang ampuh. Tapi saya ragu.

Akhirnya kami langsung ‘gas’ ke Apotek. Di sana, apoteker menyarankan beberapa merek tetes mata. Tapi pada akhirnya saya memilih INSTO DRY EYES karena emang pernah pakai merk ini sebelumnya.

Tetesin Insto Dry Eyes dulu, Nak. Biar matanya nggak sepet lagi.”

Kinza sempat ragu, tapi setelah dicoba, ia bilang “Wah, enak banget, Ummi. Perih berkurang.”

Tetes mata ini ces pleng, ngebantu banget buat meredakan gejala mata kering.

Sejak itu, setiap kali gejala muncul, kami sudah tahu solusinya. #InstoDryEyes jadi penyelamat momen belajar kami. Rasanya lega, karena akhirnya bisa kembali menikmati waktu bersama tanpa gangguan mata kering.

Tapi meski sudah punya solusi, saya tetap menerapkan aturan ketat untuk bermain gadget pada anak.

Membatasi Screen Time Anak

Sejak itu saya membatasi screen time anak. Demi menjaga kesehatan anak, menjaga momen keluarga, dan menjaga mata agar tetap sehat.

Untuk menjaga kesehatan mata dan mental anak dari pengaruh gadget, saya mulai bikin aturan:

  • Screen time ada jam khusus.

  • Saat jam belajar, gadget wajib disimpan.

  • Istirahat cukup. Tidur lebih awal, tanpa hp di kasur.

Tips Mengatasi Mata Kering

Selain meneteskan Insto, saya kalian harus tahu cara mengatasi mata kering akibat kebanyakan screen time atau akibat faktor lainnya.

  • Intinya, kurangi waktu menatap layar hp, tv, atau komputer. Jangan menatap hp terlalu lama.

  • Istirahat mata setiap 20 menit, dengan mengalihkan pandangan ke luar jendela.

  • Minum air putih yang cukup agar tak hidrasi. Ini penting untuk kesehatan mata.

Mata SePeLe yang Tidak Boleh Disepelin

Kini anak saya sudah sadar, gejala mata kering bukan hal kecil. Ya! Mata SePeLe Jangan Disepelein. Dari momen itu, ia belajar bahwa kesehatan mata sama pentingnya dengan kesehatan mental dan fisiknya.

Kalau dulu Kinza suka marah-marah setiap kali dilarang main gadget, sekarang ia lebih paham. Kadang masih ngambek, tapi setidaknya ia tahu kalau, matanya mulai SEpet, PErih, LElah, itu tanda harus berhenti.

Dan saya, sebagai Ibu-nya, kejadian ini membuat saya merasa lega. Karena akhirnya momen demi momen yang sudah lama saya nantikan bersama Kinza bisa terwujud satu per satu. Tanpa drama gadget, tanpa drama mata kering.

Husnul Khotimah

Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak