Cara Saya Menjauhkan Anak dari Gadget (hp)

Cara Saya Menjauhkan Anak dari Gadget (hp)

Hp atau tablet yang yang ditawarkan dengan harga sangat terjangkau kini begitu mudah kita temukan dan beli dimana saja. Tak hanya di kota-kota besar, sekarang di kampung-kampung juga sudah mulai banyak di buka gerai atau counter hp yang menjual berbagai macam hp Android dengan harga ramah kantong.

Tak mengherankan apabila kondisi tersebut membuat hp menjadi konsumsi utama para orang tua (ibu/bapak ). Baik itu sekedar untuk komunikasi, sebagai hiburan, atau untuk memperlancar pekerjaan.



Kebiasaan orang tua memegang hp membuat anak-anak pun tertarik. Sesekali mereka ingin mencoba. Lama-lama jadi semakin sering. Sering diberi dan menggunakan, membuat anak jadi kecanduan. Pasalnya, hp Android menawarkan banyak sekali hiburan menarik berupa game, streaming video di YouTube, hingga hiburan-hiburan kekinian seperti aplikasi Tik Tok.

Terbiasa diberi hp, membuat anak-anak jadi kecanduan. Tidak sedikit diantara mereka yang merengek-rengek setiap kali bosan dengan mainannya atau ketika tidak ada kerjaan di rumah.

Malangnya. Ketika diberi hp anak-anak yang tadinya aktif bermain jadi super anteng. Mereka diam tak bergerak, bahkan bersurapun sangat jarang karena sedang konsentrasi dengan hp. Tak hanya itu, anak yang tadinya susah diberitahu atau enggan menuruti setiap perintah, tiba-tiba jadi anak manis yang manut bak sapi dicocok hidungnya. Aih...

Kalo sudah begini, ibu mana yang tidak bakalan merasa senang. Bak dapat durian runtuh saja layaknya. Pekerjaan rumah pun jadi bisa cepat beres tanpa gangguan. Anak aman tanpa harus dijaga dan diawasi setiap saat. Dan makin banyak waktu buat "me time."

Tapi. Dibalik itu. Ada "bom waktu" yang kerap tidak kita sadari. Atau memang, kita pura-pura tidak tahu.

Ya... Karena rebutan gadget, tidak jarang kita (para orangtua) terpaksa harus marah-marah atau bertengkar dengan anak, karena gadget anak-anak sering merengek dan menangis meraung-raung, karena gadget pula anak-anak kerap malas belajar, tidak menjawab saat dipanggil, tidak memberikan perhatian saat diajak berbicara. Yang lebih parah, mata mereka jadi mudah rabun, bahkan sebelum mereka duduk di bangku SMP.

Curhatan di atas adalah pengalaman saya sebagai orang tua, yang hingga saat ini masih terus saya sesali. Karena, setiap kali anak rewel atau setiap kali saya membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya kerap memberikan anak gadget untuk menenangkannya atau untuk membuatnya diam tak bergerak, hanya agar saya bisa bekerja lebih cepat dan lebih tenang.

Tapi sejak menyadari dampak dan kerugian apabila anak-anak kecanduan hp, saya berusaha keras untuk menjauhkan Kinza dari hp.

Cara Saya Menjauhkan Anak Dari Gadget


Dari sekian banyak cara yang saya coba, saya berusaha untuk konsisten menerapkan empat metode yang saya rasa paling ampuh untuk menjauhkan Kinza dari hp.

1. Cara pertama, menyimbukkannya dengan mainan


Kinza, bukanlah tipe anak yang bisa care dengan mainannya. Hampir semua mainan yang saya belikan, mulai dari yang murah dan ringkih hingga yang mahal dan cukup kokoh, berakhir di save box dalam keadaan rusak atau terkoyak.

Sebagai orang tua, saya tetap memaklumi cara ia memainkan berbagai mainannya, meskipun kadang terkesan cukup ekstrem dan membuat saya sering mengelus dada, karena nggak sabaran melihatnya membanting mainan, menabrak-nabrakkanya, ataupun mencucinya di kamar mandi. Padahal, mainan tersebut punya mesin yang harus dihindarkan dari air.

Meski demikian, saya merasa mainan-mainan tersebut tetap memiliki banyak manfaat. Terutama, untuk melatih imajinasi anak, meningkatkan kemampuannya dalam berpikir dan bersosialisasi, serta kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.

Karena gaya main Kinza yang lumayan ekstrem, saya pun berusaha untuk mencari mainan-mainan yang lumayan kokoh dan memiliki nilai edukasi. Untuk melatih kecerdasan misalnya, saya sengaja membelikan anak mainan lego serta rubik.

Meski demikian, saya juga tetap membelikan Kinza mainan-mainan yang menjadi hobinya. Seperti robot transformer atau mobil-mobilan. Hanya saja, tidak lagi membelikannya mobil-mobilan yang dilengkapi dengan remote, saya sengaja membelikannya mobil-mobilan yang bisa dibongkar pasang dan dilengkapi dengan obeng obengan.

Meskipun, mainan tersebut juga pada akhirnya akan rusak dan berakhir di box penyimpanan hanya dalam hitungan hari.

2. Mengajaknya bermain dan melibatkannya dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan


Cara ini meskipun kerap kali membuat saya merasa sedikit agak terganggu. Karena terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan lebih lambat atau harus memberikan perhatian kepada anak saat membantu, namun saya rasa cara ini cukup efektif untuk menjauhkannya dari gadget.

Pada awalnya, saya memang sering merasa keberatan ketika anak kerap ingin melibatkan diri dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan. Karena, dalam melakukan berbagai pekerjaan, kita selalu ingin pekerjaan tersebut bisa selesai dengan cepat dan tanpa gangguan.

Tapi setelah saya pikir-pikir, banyak sekali pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya aman dan bisa dilakukan oleh anak-anak. Meskipun, hasilnya tentu saja tidak semaksimal apabila kita kerjakan sendiri.

Meski demikian, anak-anak akan mendapatkan banyak sekali pelajaran, khususnya belajar bagaimana caranya melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, dan bahkan kadang-kadang Kinza juga sangat antusias ingin terlibat setiap kali saya membuat cemilan.

3. Menerapkan peraturan yang konsisten


Di keluarga kami, kami sudah berusaha menerapkan beberapa peraturan untuk menjauhkan anak dari gadget. Diantaranya adalah, anak hanya boleh bermain gadget pada hari Ahad atau hari Minggu. Selain hari tersebut, Kinza tidak saya perkenankan bermain hp.

Alhamdulillah, saat ini peraturan tersebut sudah berjalan cukup lancar dan secara sendirinya, Kinza memahami peraturan tersebut dan menjalankannya dengan sukarela.

Meskipun, pada awal-awal ketika kami menerapkan peraturan ini, selalu terjadi gontok-gontokan antara saya dan Kinza yang kadang membuatnya jadi uring-uringan dan bad mood.

Tapi setelah sekian lama, setelah ia menyadari bahwa marah-marah atau menangis tidak lagi membuatnya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, ia pun akhirnya berdamai dengan situasi dan kondisi tersebut.

Selain peraturan ini, kami juga menerapkan peraturan lain yaitu, Kinza hanya boleh menggunakan hp milik Abinya pada hari Ahad, bukan hp saya yang kebetulan aktif saya gunakan untuk bekerja.

Cara ini, sangat efektif untuk mengamankan hp atau gadget yang memang secara khusus kita gunakan untuk bekerja. Sehingga, pekerjaan tidak akan terganggu oleh kegiatan anak sekalipun itu di hari Minggu.

4. Televisi adalah pengalih perhatian yang cukup efektif


Sejak menikah, saya maupun suami sepakat untuk tidak membeli televisi. Karena kami percaya, meskipun ada banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari menonton TV, tapi sayangnya pengaruh acara-acara di TV bagi mental anak sangatlah dahsyat.

Setelah bertahan sekian tahun, kami akhirnya membeli sebuah televisi dengan beberapa pertimbangan. Berikut adalah beberapa alasan dan tujuan kami membeli sebuah televisi.

a. Untuk menjauhkan anak dari hp


Ide membeli TV kami dapatkan sebelum kami menerapkan peraturan main hp hanya boleh di hari Ahad. Karena setiap kali anak menggunakan hp, jarak pandang antara mata dengan hp tidak pernah mencapai 30 cm apalagi lebih.

Bahkan untuk mencapai 20 cm saja rasanya hampir mustahil. Karena itulah, kami memutuskan untuk membeli sebuah televisi berukuran 32 inci yang dapat ditonton dari jarak jauh. Sedekat-dekatnya Kinza menonton TV, biasanya dia berdiri di jarak 1 s/d 1,5 meter.

Ketika ia berdiri di jarak 1 meter dari TV, kami kerap memintanya untuk menonton dari jarak yang lebih jauh. Karena sering ditegur, sekarang Kinza sudah terbiasa nonton dari tempat yang agak jauh.

b. Kami bisa mengontrol apa yang anak tonton


Meskipun membeli sebuah televisi, namun TV yang kami gunakan tidak sepenuhnya berfungsi sebagai TV seperti umumnya yang menyiarkan channel-channel lokal. Melainkan, kami sengaja membeli Android TV (Box) yang dapat terkoneksi ke internet. Sehingga kami dapat menjadikan YouTube sebagai sumber hiburan utama di samping beberapa jenis game yang hanya dapat dimainkan dengan menggunakan remote control.

Kami memang sengaja tidak memasangkan antena televisi, karena kami rasa iklan maupun acara-acara di TV kurang layak ditonton oleh anak-anak.

Dengan bantuan TV Android yang kami hubungkan ke Wi-Fi di rumah, anak-anak bisa menikmati berbagai konten di YouTube, khususnya kartun lokal maupun luar negeri.

Apapun yang mereka tonton, kami bisa mendengarnya dengan jelas dari dapur atau dari kamar. Sehingga, saat anak menonton hal-hal yang kami anggap kurang pantas bagi mereka, kami bisa langsung memintanya untuk mengganti tontonan.

Cara ini, bisa bunda coba jika anak-anak sudah kecanduan hp dan sering menggunakannya hanya untuk menonton video di YouTube. Selain bermanfaat untuk memperlebat jarak pandang anak dari hp, cara ini juga efektif untuk mengontrol apa saja yang mereka tonton di YouTube.
Previous Post
Next Post

post written by:

Seorang Sarjana Sistem Informasi di STMIK Amikom Jogjakarta. Content Writer, Youtuber, Animator, dan Blogger--sejak 2009

0 Comments: